Resensi Filem: “Persembahan Forshufvud untuk Napoleon”

Mar 12, 2012 by

Film : The Napoleon Murder Mistery

Sutradara : Noah Morowitz

Napoleon Bonaparte, seorang penakluk Eropa yang nama besarnya terus hidup ratusan tahun lamanya bahkan jauh melebihi usia hidupnya di dunia. Goethe bahkan mengatakan bahwa hidup Napoleon dipenuhi kecemerlangan yang tak pernah disaksikan sebelumnya dan tanpa ragu tak akan pernah terlihat kembali (kecemerlangan yang demikian). Tak heran, kisah-kisah kejayaan serta kematiannya yang tragis tidak hanya menjadi perhatian para akademisi namun juga para pencinta sosok Napoleon di seluruh dunia.

Dalam film The Napoleon Murder Mystery yang disutradarai oleh Noah Morowitz dengan dukungan dari Discovery Channel,misteri kematian tragis Napoleon diungkapkan dalam kisah dramatis yang bermain di antara kesetiaan dan penghianatan pelayan setia Napoleon selama di St Helena, tempat ia diasingkan pada bulan Oktober 1815. J.David Markham dari Napoleonic  Society, menjelaskan bahwa sebelum kematiaannya Napoleon sadar bahwa keadaannya sedang sekarat . Napoleon sempat menulis surat pada dokternya di St.Helena yang bernama Dr. Antommarchi enam jam sebelum kematiannya. Surat itu berisi perintah agar Dr. Antommarchi melakukan otopsi jasad Napoleon jika ia telah wafat guna memperlihatkan rasa malu dan horor bagi para penguasa atas kematiannya.

Napoleon akhirnya wafat pada 5 Mei 1821. Seluruh pengikutnya yang turut bersama Napoleon ke pulau pengasingan,St. Helena, hadir di kamarnya untuk mencium tangan Napoleon yang telah tak bernyawa. Louis Marchand,pelayan setia yang mengabdi pada Napoleon sejak masih remaja mengurus jenasahnya dan menggunting rambut Napoleon untuk nantinya dibagikan kepada keluarga dan kerabat.  Sehari kemudian sesuai dengan perintah Napoleon, enam dokter salah satunya Dr. Antommarchi ditugaskan melakukan otopsi jasad Napoleon. Dr. Antommarchi terkesan asal-asalan dalam menganalisa penyebab kematian Napoleon. Napoleon kemudian dinyatakan mati karena kanker perut.

Sepeninggal Napoleon, Louis Marchand meninggalkan St. Helena dan kembali ke Prancis. Ia menjalankan wasiat Napoleon yang memintanya untuk menikah dan memiliki anak agar kelak Marchand dapat menceritakan kisah kejayaan maupun kisah tragis hidup Napoleon. Louis Marchand menikah dan memiliki seorang putri bernama Malvina. Kepada Malvina, Marchand menuliskan catatan yang berisi kesaksian mengenai hari-hari terakhir Napoleon di St.Helena. Berbeda dengan orang lainnya yang menulis kesaksian untuk diterbitkan dan mendapatkan uang, Marchand menulis catatannya hanya untuk dibaca oleh Malvina. Hingga pada tahun 1952, Komandan Henry Lachouque membeli properti Marchand termasuk kumpulan catatan Marchand yang kemudian diterbitkan.

Segala kontraversi perihal penyebab kematian Napoleon berawal dari penelitian Sten Forshufvud ,berasal dari Gotenberg, Swedia. Forshufvud adalah seorang dokter gigi sekaligus pemuja sosok Napoleon. Ia membaca lima jilid buku tentang Napoleon dari malam ke malam untuk memenuhi obsesinya akan Kaisar penakluk Eropa itu. Pada tahun 1955, setelah membaca Memoires de Marchand, Forshufvud berani menyatakan bahwa Napoleon tidak mati karena kanker melainkan karena pembunuhan berencana dengan racun arsenik. Ia mematahkan fakta kematian Napoleon yang disebabkan oleh kanker. Menurut Forshufvud, Napoleon tidak mungkin mati karena kanker karena tubuhnya gemuk dan tidak ada bekas tumor di tubuhnya. Ia lalu menuliskan pendapatnya itu dalam sebuah artikel. Artikel yang ia tulis memicu sikap dingin para sejarawan konvensional Prancis. Tak ada satupun yang berkenan membantu penelitian Sten ketika ia datang ke Prancis guna mencari sumber. Namun di sisi lain, artikelnya itu telah menarik simpati para pembaca, sehingga ada di antara mereka( baik yang berasal dari New York, Paris, dan Moscow) yang menyimpan rambut Napoleon kemudian mengirimkan rambut-rambut tersebut kepada Forshufvud. Ia juga berhasil mendapatkan rambut Napoleon milik Betsy Balcombe, gadis kecil berkebangsaan Inggris yang bersahabat dengan Napoleon selama di St.Helena.

Pada tahun 1959 ia membuktikan teorinya itu dengan bantuan Hamilton Smith,ilmuwan dari Universitas Glasgow untuk menguji rambut Napoleon yang ia dapatkan dari banyak pihak. Teknologi saat itu mampu mengungkapkan riwayat racun yang berada di tubuh Napoleon menjelang kematiannya. Penelitian itu mengungkapkan bahwa Napoleon diracun sebanyak 40 kali dan memastikan bahwa rambut-rambut yang datang dari berbagai tempat itu berasal dari pemilik rambut yang sama.

Setelah berhasil mengungkap penyebab kematian Napoleon, Forshufvud mengalihkan penelitiannya untuk mencari pelaku pembunuhan. Beberapa nama masuk dalam daftar tersangka yaitu Hudson Lowe , Louis Marchand, Count Charles Tristan de Montholon, dan Dr.Antommarchi. Pembunuh Napoleon tentunya harus memiliki kriteria sebagai orang yang sangat dipercaya oleh Napoleon, orang yang memiliki akses untuk memberikan 40 dosis racun secara terpisah,orang yang mengawasi rumah tangga istana dan memiliki kunci, serta orang yang memiliki akses ke persediaan anggur yang diminum oleh Napoleon. Berdasarkan kriteria tersebut, Forshufvud menyebut Count de Montholon sebagai pelakunya.

Count de Montholon diriwayatkan sebagai seorang bangsawan yang gemar hura-hura. Ia dan istrinya Albine de Montholon turut bersama Napoleon ke St.Helena. Ia berhasil mengambil hati Napoleon sehingga Napoleon memberinya julukan “yang paling setia di antara yang setia”. Albine de Montholon pernah menjalin hubungan percintaan dengan Napoleon. Hal ini dicurigai menimbulkan dendam atau rasa cemburu yang tersembunyi dalam diri Count de Montholon terhadap Napoleon. Napoleon juga pernah memergoki Albine de Montholon sedang membaca buku The History of Madame Brinvillers yang menceritakan kisah Madame Brinviller membunuh keluarganya dengan menggunakan racun. Napoleon mengetahui isi buku tersebut dan kemudian berkata pada Albine bahwa racun adalah senjata pengecut. Setelah kematian Napoleon, Count de Montholon menghambur-hamburkan uang pemberian Sang Kaisar. Ia mendukung siapa pun yang sedang berkuasa demi kenyamanan hidupnya. Atas dasar itu, tuduhan Forshufvud terhadap Count de Montholon memiliki dasar yang kuat.

Hasil penelitian Forshuvud menuai kontroversi dan tidak diakui oleh Pemerintah Prancis karena dianggap dapat mengganggu nasionalisme Prancis yang diwakili semboyan “Liberté,Egalité,Fraternité”. Namun, kerja keras Forshufvud yang semula dipandang sebelah mata pada akhirnya tetap diakui sebagai hasil penelitian yang valid dalam menganalisis penyebab kematian Napoleon. Profesinya sebagai dokter gigi, membuktikan bahwa dalam menulis sejarah keterlibatan ilmu-ilmu lainnya akan sangat membantu memberikan penjelasan yang rinci mengenai suatu peristiwa.

Ditulis oleh: Fitri Ratna Irmalasari

Related Posts

Share This

404