Lombok and the Lovely Gili

Jun 29, 2011 by

Gili Trawangan

Gili Trawangan

“Almost heaven? No! Made in heaven is the correct words” kata seorang wisatawan dari Swedia yang kutemui di wisma murah meriah di dekat pelabuhan di Gili Trawangan. Pujian yang setinggi langit itu sempat membuat busung dada ini dan saya pun sepenuhnya setuju akan kata-katanya. Pantainya berpulir halus dan berwarna krem hampir putih, airnya hijau-kebiruan dan jika kita memandang ke horison nampak seperti menyatu dengan langit, udaranya bersih karena tidak ada satupun motor atau mobil di sana. Dan jika anda cukup beruntung, yang sayangnya tidak saya alami, pada pagi hari yang cerah sesaat setelah matahari terbit, maka anda dapat melihat Gunung Rinjani di dataran utama Nusa Tenggara bersanding dengan cahaya matahari pagi.

Gili Trawangan merupakan salah satu dari tiga pulau kecil yang indah di belahan utara Lombok, dua lainnya adalah Gili Meno dan Gili Air. Ketiganya tentu sama indahnya, tapi Gili Trawangan jauh lebih tersohor namanya dibanding dua Gili yang lainnya. Datang ke Gili Trawangan maka anda ibarat mendatangi melting pot para wisatawan asing di Indonesia selain Bali.

Tak lengkap rasanya berbicara mengenai Gili tanpa membicarakan Lombok dam Senggigi. Yah dataran utama Nusa Tenggara Barat ini juga memiliki objek yang tak kalah hebatnya dengan tiga pulau kecil itu. Tak lengkapa rasanya jika tidak mencicipi Satai Rembiga jika kita berada di Lombok. Sate yang disajikan tanpa bumbu kacang ini memiliki rasa pedas yang khas karena cabai Lombok yang tersohor itu. Tempat menjualnya pun tidak jauh dari Selaparang, namun saya lupa nama jalannya tapi bisa anda tempuh dengan berjalan kaki dari bandara.

Setelah menyantap makanan ini jangan pula langsung menuju Gili, cobalah datangi pantai-pantai yang ada di Lombok, seperti Pantai Kuta di Lombok Timur atau Pantai Senggigi. Saya waktu itu memilih untuk pergi ke Senggigi karena searah dengan perjalanan menuju Gili. Senggigi seolah menjadi makanan pembuka sebelum kita sampai ke Gili, walaupun tergolong ramai untuk ukuran pantai rekreasi dikarenakan banyaknya hotel dan resort yang berada di pinggir pantai. Namun secara garis besar Senggigi tetap pantas sebagai sarana rekreasi pantai. Untuk mencapai Gili Trawangan pun bisa melalui Senggigi, namun kita harus menyewa kapal dari nelayan dengan ongkos berkisar antara 300 ribu untuk perjalanan pulang pergi.

Ketika berjalan menyisiri Senggigi, saya sempat memandang ke arah langit karena mendengar deruan suara jet dari pesawat komersil yang mungkin sedang melakukan approach sebelum mendarat di Selaparang, dan tendensasi pesawat tersebut seolah menggambar garis putih di langit biru yang cerah saat itu.

Selepas menyusuri Senggigi, saya pun melanjutkan perjalanan untuk menuju pelabuhan tempat kapal berlayar menuju GIli Trawangan. Dan lagi-lagi alam seolah tak bosan menunjukkan keindahannya padaku. Sebuah tanjung berpantai putih dan bukit muncul di salah satu belokan menuju pelabuhan. Perjalanan kembali terhenti untuk mengabadikan lanskap yang indah ini.

Akhirnya tiba juga saya di pelabuhan, pilihlah kapal angkut biasa yang langsugn menuju Gili Trawangan bertarif 10 ribu rupiah dengan catatan baru akan berangkat setelah jumlah penumpang dianggap penuh. Namun menunggu kapal penuh ternyata tidak selama yang kita kira. Atau jika anda bukan orang penyabar, maka anda bisa menyewa kapal milik nelayan untuk menuju ke sana dengan catatan ongkos yang dikeluarkan tentu jauh lebih besar dari kapal angkut biasa. Perjalanan dari pelabuhan ini menuju Gili Trawangan memakan waktu sekitar 1 jam, namun selama itu anda bisa melihat dua gili yang anda lewati dan pemandangan unik dari nelayan-nelayan yang hendak melaut. Lalu akhirnya…..

“Selamat Datang di Gili Trawangan” begitu tulisan di papan kayu panjang itu. Akhirnya setelah sekian lama rasa ingin tahu itu terpenuhi juga saat kaki ini menjejakan di pantai putih itu. Di salah satu sudut pantai kita dapat memandangi horizon tanpa batas, tidak ada pulau, tidak ada gedung bertingkat, hanya ada anda dan suasana yang serba biru. Berat rasanya kaki ini ketika meninggalkan gili, karena suatu saat nanti mungkin tak bisa kembali karena menemukan tambatan hati lain selain gili.

                        

Ditulis oleh: Dony Hermaswangi, S. Hum.

Related Posts

Share This

404